Jumat, 13 Maret 2015

skala dalam statistik

SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Standard
Penelitian pada dasarnya merupakan satu upaya memahami masalah-masalah yang ditemui dalam kehidupan manusia, keterbatasan manusia untuk memahami permasalahan tersebut hanya mengndalkan pengalaman hidup sehari hari secara sporadic dan tidak tertata, jelas tidak cukup menjadi dasar yang kuat bagi pemahaman terhadap satu permasalahan (Uhar, 2012:94).
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variable yang diteliti. Dengan demikian imliah instrument yang akan digunakan untuk penelitian tergangung pada jumlah variable yang ditelti. Jika variablenya lima maka instrumennya lima.
Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrument harus mempunyai skala (Sugiyono, 2012:92).
  1. A.    Jenis Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat  ukur, sehingga alat ukur tersebut jika digunakan akan menghasilkan data kuantitatif. Contohnya timbangan emas sebagai instrument untuk mengukur berat emas.
Jenis-jenis skala pengukuran ada empat : skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala ratio.
  1. Skala nominal
Skala nominal adalah sekala yang paling sederhana, disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai symbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik yang lainnya.
Skala nominal adalah skala yang hanya mendasarkan pada pengelompokkan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif (Uhar suharsaputra,  2012:72). Adapun ciri-ciri dari skala nominal adalah:
a)    Kategori data bersifat mutually exclusive (salign memisah).
b)    Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang). Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan. Angka yang tertera hanya lebel semata. Tidak mempunyai ukuran baru. Dan tidak mempunyai nol mutlak.

  1. Skala ordinal
Skala ini adalah pengukuran yang mana skala yang digunakan disusun secara runtut dari yang rendah sampai yang tinggi. Skala ordinal sekala yang diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai skala yang terendah atau sebaliknya.
Adapun ciri-ciri dari skala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan skala berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.

  1. Skala interval
Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak satu data dengan data yang lain dengan bobot nilai yang sama, sementara menurut (Uhar) dalam bukunya, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, menjelaskan bahwa skala interval adalah skala pengukuran yang mana jarak satu tingkat dengan yang lain sama. Ciri-ciri dari skala ini menurut Uhara ada lima :
a)    Kategori data bersifat saling memisah.
b)    Kategori data memiliki aturan yang logis.
c)    Kategori data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang dimilikinya.
d)    Perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori.
e)    Angka nol hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut).

  1. Skala rasio.
Skala ini adalah sekala interval yang benar-benar memiliki nilai nol mutlak. Dengan demikian sekala rasio menunjukkan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat.

  1. B.     Skala sikap
Skala ini hanya digunakan untuk mengukur sikap, perkembangan ilmu sosiologi dan pisikologi yang banyak menggunakan ini untuk khusus mengukur sikap. Beberapa skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan social antara lain :

  1. Skala likert
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan prsepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena atau gejala sosial yang terjadi. Hal ini sudah sepesifik dijelaskann oleh peneliti. Yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian. Kemudian dijabarkan melalui dimensi-dimensi menjadi sub-variabel, kemudian menjadi indicator yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan variabel penelitian (Iskandar, 2009:83).
Penyataan atau pernyataan tadi kemudian direspon dalam bentuk skala likert, yang diungkapkan melalui kata-kata misalnya ; setuju, sangat setuju, tidak pasti, tidak setuju, sangat tidak setuju.

  1. Skala guttuman
Skala guttaman menggunakan dua jawaban yang tegas dan konsisten, yaitu ya-tidak, postif-negatif, tinggi-rendah, yakin-tidak yakin, setuju-tidak setuju, dll.

  1. Semantic defentrial.
Skala differensial digunakan untuk mengatur sikap perbedaan simantik, responden untuk menjawab pernyataan dalam satu garis kontinum yang bertentangan yaitu positif negative. Data yang diperoleh biasanya data interval yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang atau kelompok (Iskandar, 2009:84) .
Skala ini berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub), seperti : panas-dingin, baik-buruk, dll. Karakteristik bipolar mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek :
a)    Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik satu objek
b)    Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak.
c)    Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan satu objek
  1. Rating scale
Berdasarkan ketiga skala semua data yang diproleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan rating scale adalah data mentah yang didapar berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia, tapi menjawab dari jawaban kuantitatif, dengan demikian raing scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja.

  1. C.    Pengertian Instrument Penelitian
Dalam penelitian bidang pendidikan, teknik pengumpulan data yang lazim adalah menggunakan intrumen. Dalam menjalankan penelitian data merupakan tujuan utama yang hendak dikumpulkan dengan menggunakan instrument. Instrumen penelitian adalah nafas dari penelitian. Menurut (Arikunto, 1995:177), ‘’instrumen penelitian adalah sesuatu yang penting dan strategis kedudukannya dalam pelaksanaan penelitian.’’
Keadaan-keadaan telah mendorong upaya-upaya pakar untuk membuat prosudur dan alata yang dapat digunakan guna mengungkap kenyataan-kenyataan (data) yang dapat diajdikan dasar dalam menyelesaikan berbagai masalah. Untuk itu instrument penelitian menempeti kedudukan penting dalam sebuah penelitian, hal ini tidak lain karean keberhasilah sebuah penelitian dipengaruhi pula oleh instrument yang dipergunakan (Uhar Suharsaputra, 2012:94)
Kualitas data sangat menetukan kualitas penelitian. Kualitas data tergantung pada kualitas alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Pada dasarnya terdapat dua kategori instrument yang digunakan dalam penelitian, yakni :
a)    instrument digunakan untuk memproleh informasi atau data tentang keadaan objek atau proses yang diteliti.
b)    Instrumen digunakan untuk mengontrol objek atau proses yang diteliti.
Data kondisi objek atau spesifikasi proses yang diukur dapat diulang dengan menggunakan dua instrument tersebut (Gempur Santoso,  2012:62)
Dalam suatu penelitian kuantitatif (adanya jarak antara subjek dan objek) yang bersifat verifikasi hipotesis, instrument penelitian merupakan alat yang dipakai untuk menjembatani antara subjek dan objek (secara subtansial antara hal-hal teoritis dan empiris, antara konsep dan data) (Uhar Suharsaputra,  2012:94).
Teknik pengumpulan data yang lazim digunakan adalah menggunakan adalah instrumen yang sempurna, wawancara, observasi, dokumentasi, sperti pada table di bawah ini.

Beberapa hal yang penting dalam menyusun istrumen
Menurut Nana Sudjana (Uhar Suharsaputra,  2012:95), dalam penyusunan instrument penelitian ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
  1. Masalah dan variable yang diteliti termasuk indicator variable harus jelas sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis istrumrn yang digunakan.
  2. Sumber data/ informasi, baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistimatika item dalam instrument penelitian.
  3. Keterandalan dalam instrument itu sendiri sebagai alat pengumpulan data, objekvitas, dll.
  4. Jenis data yang diharapkan dari pengguna instrumen harus jelas. Sehingga peneliti dapat menetukan gaya analisis dan pemecahan masalah penelitian.
  5. Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan

Sarana Instrument Penelitian
  1. Angket
Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan pada orang lain dengan tujuan agar orang yang diberi bersedia memberikan respon yang sesuai. Angket  dibedakan menjadi tiga yaitu :
a)    Angket terbuka, adalah angket yang disajikan dalam bentuk isian. Tentunya disertai dengan pertanyaan.
b)    Angket tertutup, adalah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana, yang mana responden tinggal membri tanda centang pada kolom yang disediakan terhadapa jawaban yang sesuai dengannya. Biasanya dalam bentuk multipelchoise.
c)    Campuran, Disamping dari kedua ini ada combinasi dari dua jenis angket di atas.

  1. Daftar cocok (Checlist)
Ini hampir sama dengan angket tertutp, karena hanya tinggal member tanda pada tes yang diberikan terhadap jawaban keadaan kita. Bedanya dengan angket, checklist dibuat sedikit lebih sederhana.
  1. Skala
Skala menunjuk pada sebuah instrument pengumpul data yang bentuknya seperti daftar cocok tapi alternative yang disediakan merupakan sesuatu yang berjenjang. Skala banyak digunakan untuk mengukur aspek-aspek kpribadian atau kejiwaan.

Jenis Instrument Penelitian
  1. 1.    Tes
Tes yaitu suatu alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban, baik secara tertulis maupun lisan. Sehingga dapat mengetahui kemampuan individu  yang bersangkutan.
  1. 2.    Kuesioner
Instrument penelitian dalam bentuk pertanyaan yang biasanya dimaksudkan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan pendapat, aspirasi, prespsi, keinginan, keyakinan, dll secara tertulis. Dan apabila dilakuakan dengan menggunakan lisan maka disebut wawancara. Untuk lebik baiknya ini digabungkan, antara liasan dan tilisan untuk memperkuat data.
  1. 3.    Skala
Skala merupakan alat untuk mengukur nilai/keyakinan, sikap dan hal-hal yang berkaitan dengan personological. 

  1. D.    Cara Menyusun Instrumen
Cara menyusun instrumen yaitu bertolak dari variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Indikator ini dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumrn, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrumen “ atau “kisi-kisi instrumen”.
  1. E.     Contoh Judul Penelitian dan Instrumen yang Dikembangkan
Contoh judul penelitian dan instrumen yang dikembangkan yaitu:
“GAYA DAN SITUASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH SERTA PENGARUHNYA TERHADAP IKLIM KERJA ORGANISASI SEKOLAH”
Instrumennya yaitu:
  1. Instrumen untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan
  2. Instrumen untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan
  3. Istrumen untuk mengukur variabel iklim kerja organisasi.

  1. F.     Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Uji Validitas
Pengertian Validitas:
  1. 1.    Menurut Gronlund dan Linn (1990)
Validitas adalah ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran atau evaluasi
  1. 2.    Menurut Anastasi (1990)
Validitas adalah ketepatan mengukur konstruk, menyangkut; “What the test measure and how well it does”
  1. 3.    Menurut Arikunto (1995)
Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur.
  1. 4.    Menurut Sukadji (2000)
Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur.
  1. 5.    Menurut Azwar (2000)
Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya.
Pengertian Uji Validitas:
Menurut Sugiyono (2006)
Uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian
Tujuan uji validitas:
  • Mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya.
  • Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut.

Valid merupakan istrumen dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.  Istrumen yang mempunyai validitas internal bila kriteria yang ada dalam instrumen telah mencerminkan apa yang diukur. Instrumen yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria di dalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta empiris yang telah ada. Istrumen yang harus mempunyai validitas isi adalah instrumen yang berbentuk test yang sering digunakan untuk mengukur prestasi belajar. Pengujian validitas digunakan analisis item yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.
Hasil penelitian yang reliabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Jadi instrumen yang reliabel dan valid merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal consistency dengan teknik belah dua yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown.
Macam instrumen yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur prestasi belajar dan instrumen nontest untuk mengukur sikap.
Uji Reliabilitas
Pengertian Reliabilitas:
  1. 1.    Menurut Sukadji (2000)
Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefesien. Koefesien tinggi berarti reliabilitas tinggi.
  1. 2.    Menurut Anastasia dan Susana (1997)
Reliabilitas adalah sesuatu yang merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda.
  1. 3.    Menurut Sugiono (2005) dalam Suharto (2009)
Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang.
  1. 4.    Menurut Suryabrata (2004)
Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya.
  1. 5.    Menurut Gronlund dan Linn (1990)
Reliabilitas adalah ketepatan hasil yang diperoleh dari suatu pengukuran.
Pengertian Uji Reliabilitas:
Menurut Husaini (2003)
Uji reliabilitas adalah proses pengukuran terhadap ketepatan (konsisten) dari suatu instrumen. Pengujian ini dimaksudkan untuk menjamin instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrumen yang handal, konsistensi, stabil dan dependibalitas, sehingga bila digunakan berkali-kali dapat menghasilkan data yang sama. Tujuan dari uji reliabilitas yaitu menunjukkan konsistensi skor-skor yang diberikan skorer satu dengan skorer lainnya.
Menurut Djaali dan Pudji (2008) reliabilitas dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
  1. 1.    Reliabilitas konsistensi tanggapan
Reliabilitas ini mempersoalkan apakah tanggapan responden atau objek terhadap tes tersebut sudah baik atau konsisten. Jika hasil pengukuran kedua menunjukkan ketidakkonsistenan maka hal ini akan menunjukkan bahwa hasil ukur tes atau instrumen tersebut tidak dapat dipercaya atau tidak reliable serta tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk mengungkapkan ciri atau keadaan sesungguhnya dari objek pengukuran.
Ada tiga mekanisme untuk memeriksa reliabilitas tanggapan responden terhadap tes yaitu:
  1. 1.      Teknik test-retest ialah pengetesan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama pada waktu yang berbeda.
  2. 2.      Teknik belah dua ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan dua kelompok item yang setara pada saat yang sama.
  3. 3.      Bentuk ekivalen ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan menggunakan dua tes yang dibuat setara kemudian diberikan kepada responden atau obyek tes dalam waktu yang bersamaan.

  1. 2.    Reliabilitas konsistensi gabungan item
Reliabilitas ini berkaitan dengan kemantapan atau konsistensi antara item-item suatu tes. Bila terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui item yang satu kontradiksi atau tidak konsisten dengan hasil ukur melalui item yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya.
Koefesien reliabilitas konsistensi gabungan item dapat dihitung dengan menggunakan:
a)    Rumus Kuder-Richardson, yang dikenal dengan nama KR-20 dan KR-21.
b)    Rumus koefisien Alpha atau Alpha Cronbach.
c)    Rumus reliabilitas Hoyt, yang menggunakan analisis varian.

  1. G.    Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
  2. 1.    Pengujian validitas instrumen
a)    Pengujian validitas konstrak. Pengujian ini dapat digunakan pendapat dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris di lapangan selesai lalu diteruskan uji coba instrumen.
b)    Pengujian validitas isi untuk membandingkan isi instrumen  dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.
c)    Pengujian validitas eksternal
Penelitian mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti.
  1. 2.    Pengujian reliabilitas instrumen
Pengujian ini dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara kesternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest, equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.

statistik



Materi Teknik Pengambilan Sampel Statistika Dasar semester 2
BAB II
PENGUMPULAN DATA STATISTIK

            Ada dua teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data statistik, dengan sensus (population research)   atau survei (sample research).  Sensus adalah pengumpulan data dimana setiap unit anggota populasi diteliti. Jadi dilakukan pencacahan lengkap. Sedangkan survei (sampling)  adalah cara pengumpulan data yang hanya meneliti sebagian saja dari unit anggota populasi. Pencacahan dilakukan terhadap sampel yang terpilih.

2.1. Populasi (Universe)
            Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek yang akan diteliti yang didefinisikan dengan jelas, dengan karakteristik dan kuantitas tertentu.      Populasi bukan hanya orang, tetap juga benda-benda hidup maupun mati yang ada semesta. Populasi juga bukan hanya jumlah yang ada dalam obyek pengamatan, melainkan juga meliputi karakter/sifat yang ada pada obyek tersebut.
Misalnya akan dilakukan penelitian di SMA X, maka SMA X merupakan populasi. Sekolah tersebut mempunyai sejumlah orang, hal ini berarti SMA X merupakan populasi dalam arti jumlah. Tetapi SMA X juga mempunyai karakteristik tertentu pada orang-orangnya. Misalnya efektivitas mengajar guru-gurunya, kedisiplinan siswa maupun gurunya /obyek, gaya kepemimpinan kepala sekolahnya, dan lain sebagainya. Yang demikian merupakan populasi dalam arti karakteristik.
Satu orang pun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik. Misalnya, gaya bicara, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain Atau seorang siswa mempunyai catatan prestasi belajar dalam suatu mata pelajaran tertentu, dari semester I sampai VI. Catatan prestasi tersebut merupakan populasi.
Proses pengambilan data dari seluruh obyek pada populasi disebut Sensus atau penelitian populasi (population research). Penelitian yang demikian biasanya sangat kompleks dan membutuhkan waktu tenaga, dan biaya yang sangat besar. Disamping itu  tidak dapat dilakukan pengamatan secara mendalam. Namun sensus mempunyai kelebihan, antara lain : dapat diketahui gambaran yang sebenarnya dari suatu populasi serta tidak mempunyai sampling error. Secara lengkap, kelebihan dan kekurangan sensus ditampilkan pada tabel 2.1. berikut .
Tabel 2.1.
Kelebihan dan Kekurangan Sensus

No
KELEBIHAN
KEKURANGAN
1.
Dapat diketahui gambaran sebenarnya  dari suatu populasi
Biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan sangat besar
2.
Dapat diperoleh kerangka sampel (sample frame) yang berguna untuk survei
Kesalahan dari petugas (nonsampling error) sulit diperkirakan
3.
Tidak mempunyai sampling error (kesalahan karena pengambilan sampel)
Jenis data yang diperoleh terbatas dan sifatnya sederhana (tidak mendalam)

2.2. Sampel
             Sampel merupakan sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki populasi. Dengan kata lain sampel merupakan himpunan bagian dari populasi.  Apa yang dipelajari dalam sampel, kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi. Dengan kata lain sifat-sifat sampel dapat digeneralisasi untuk populasi.
            Penelitian yang dilakukan terhadap sampel disebut penelitian sampel (sampel research) atau survei.  Penelitian sampel dilakukan  disebabkan adanya kendala, misalnya adanya populasi yang sangat kompleks sehingga sulit didefinisikan, adanya kendala biaya, waktu serta tenaga . Dengan alasan inilah, penelitian sampel sering digunakan. Disamping itu,  penelitian sampel sering dipilih karena terhadap obyek yang kecil dapat dilakukan pengamatan yang lebih teliti dan mendalam. Tetapi penelitian sampel mempunyai kekurangan, antara lain :  gambaran tentang poluasinya hanya merupakan taksiran, bukan nerupakan gambaran yang sebenarnya, dismping itu diperlukan kerangka sampel ( sample frame),  dan sering kali metode pengambilan sampel tidak tepat, sehingga  tidak dapat dihindarkan terjadinya kesalahan. Tabel 2.2. berikut menampilkan kelebihan dan kekurangan penelitian sampel.





Tabel 2.3
Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Sampel (Survei)

No
KELEBIHAN
KEKURANGAN
1.
Biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan jauh lebih sedikit
Gambaran tentang populasinya hanya merupakan taksiran
2.
Kesalahan dari sampling error dapat diukur
Memerlukan kerangka sampel
3.
Karakteristik/jenis data yang tercakup lebih banyak dan terinci
Metode pengambilan sampel tidak terlalu tepat

2.2.1.Teknik Sampling
            Secara teoritis, hasil penelitian sampel dapat digeneralisasi untuk populasi sepanjang telah ditempuh prosedur yang benar. Salah satu prosedur yang harus  dilakukan dalam penelitian sampel adalah teknik sampel  , yakni kaidah-kaidah dalam menentukan besar sampel dan obyek yang menjadi sampel. Teknik pengambilan sampel dalam suatu penelitian perlu menggunakan kaidah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, atau secara lebih khusus secara statistik. Apabila salah dalam pengambilan sampel, maka ada kemungkinan hasil generalisasi atau penarikan kesimpulan  untuk populasi menjadi  tidak akurat.[1][1]  Teknik Sampling meliputi dua hal yaitu teknik penentuan ukuran  sampel dan teknik pengambilan sampel.
2.2.1.1. Teknik Penentuan Ukuran Sampel
            Ukuran sampel adalah jumlah sampel minimal yang harus diambil dari populasi agar sampel representatif. Penentuan ukuran sampel tergantung pada populasinyaYakni dilihat dari homogenitas populasi dan besar populasi. Bila populasi sangat homogen dan ukurannya kecil, maka dapat diambil sampel dengan ukuran kecil. Sebaliknya bila populasi sangat heterogen atau ukurannya besar, maka diperlukan populasi dalam ukuran besar.
            Para ahli mengemukakan bermacam-macam cara dalam menentukan ukuran sampel, yang berikut akan dipaparkan.
  1. Pendapat Slovin
Menurut Slovin, jumlah minimal yang dapat diambil agar sampel representatif terhadap populasi adalah :
n =   
dimana n = ukuran sampel (jumlah sampel)
 N = ukuran populasi
 e =  persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir, misalnya 2 %.
Pemakaian rumus di atas mempunyai asumsi bahwa  populasi berdistribusi normal.
Contoh 2.1 :
            Akan dilakukan penelitian tentang minat siswa SMA/MA/SMK di wilayah eks Karesidenan Pekalongan terhadap STAIN. Berdasarkan informasi, jumlah siswa SMA/MA/SMK di seluruh wilayah eks  Karesidenan Pekalongan adalah 10.000. Agar penelitian tersebut menghemat biaya, waktu dan tenaga dilakukan penelitian sampel. Kesalahan yang diinginkan sebesar 3%. Maka sampel yang diambil berjumlah :
n = 10.000/(1+10.000x0,032) = 1.000 siswa
Jadi  jumlah sampel minimal yang harus diambil untuk penelitian tersebut  adalah 1.000 siswa



b.      Pendapat Gay
Menurut Gay, ukuran minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan kepada desain penelitian yang digunakan, yaitu :
a.                           Untuk penelitian deskriptif, minimal 10 % populasi. Untuk populasi relatif kecil minimal 20 % populasi.
b.                          Untuk penelitian menggunakan teknik analisis korelasional minimal 30 obyek.
Contoh 2.2. :
            Seorang peneliti ingin mengetahui tingkat kesadaran menjalankan ibadah pada penduduk suatu desa. Untuk tujuan tersebut, ia melakukan pengamatan terhadap penduduk desa tersebut. Bila jumlah penduduk desa 1.000, maka sampel yang harus diambil sebanyak  1.000 x 10% = 100 penduduk.
c.       Pendapat Kracjie
Pendapat Kracjie hampir sama dengan Slovin, hanya Kracjie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Kracjie selanjutnya membuat tabel seperti ditunjukkan dalam tabel 2.3., sehingga kita tidak perlu melakukan perhitungan yang rumit.
Dari tabel tersebut, bila jumlah populasi 100, maka sampelnya 80. Bila populasi 1.000 maka ukuran sampelnya 278, dan bila populasinya 10.000 maka ukuran sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi makin kecil persentasi
sampel. Oleh karena itu tidak tepat bila ukuran  populasinya berbeda, persentasinya sama, misalnya selalu 10%.


Tabel 2.3
Tabel Kracjie
N
S
N
S
N
S
N
S
N
S
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
10
14
19
24
28
32
36
40
44
48
52
56
59
63
66
70
73
76
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
80
86
92
97
103
108
113
118
123
127
132
135
140
144
148
152
155
159
280
290
300
320
340
360
380
400
420
440
460
480
500
550
600
650
700
750
162
165
169
175
181
186
191
196
201
205
210
214
217
226
234
242
248
254
800
850
900
950
1.000
1.100
1.200
1.300
1.400
1.500
1.600
1.700
1.800
1.900
2.000
2.200
2.400
2.600
260
265
269
274
278
285
291
297
302
306
310
313
317
320
322
327
331
335
2.800
3.000
3.500
4.000
4.500
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
15.000
20.000
30.000
40.000
50.000
75.000
100.000
338
341
346
351
354
357
361
364
367
368
370
375
377
379
380
381
382
384



2.2.1.2. Teknik Pengambilan Sampel
             Teknik Pengambilan  sampel   pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability sampling   dan Non Probability sampling. Probability sampling meliputi   simple random, proportionate stratified random, dispropotionate stratified random  dan  area random.  Non probability sampling  meliputi  sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan  snowball sampling. (Sugiyono, 1999;57).

1.      Probability Sampling ( Random Sampling )
Probability sampling adalah  teknik pengambilan sampel  yang memberikan  peluang yang sama  bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih  menjadi anggota sampel ( Saleh, 1988; 15) , . Metode ini dianggap merupakan metode yang terbaik, karena peneliti terbebas dari subyektifitas. Generalisasi hasil penelitian sampel terhadap populasi bisa lebih dipertanggungjawabkan.
Probability sampling meliputi :
a.      Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi sepenuhnya dilakukan random, tanpa mempehatikan strata yang ada  dalam populasi itu. Cara demikian bila anggota populasi homogen atau dianggap homogen. Teknik ini dapat digambarkan dalam gambar 2.1 berikut :



Populasi
Homogen

Sampel
Yang
Diambil
  POPULASI              Diambil                                  
 HOMOGEN                 Secara Random                                                     
                                 


Gambar 21
Teknik Simple Random Sampling
Pengambilan sampel dengan  cara ini dapat dilakukan  dengan  cara pengundian sebagai berikut :
Seluruh anggota pada populasi diberi  nomor. Lalu secara acak  dipilih nomor-nomor yang sesuai dengan banyaknya sampel yang telah ditentukan, dengan cara diundi. Pengundian bisa dilakukan dengan menggunakan “klintingan”, atau dengan menggunakan mesin pembangkit angka acak.[2][2] Pengundian dapat pula  menggunakan tabel  bilangan random yang sering dilampirkan pada  buku-buku  teks statistika.
Tabel bilangan random merupakan suatu tabel yang  terdiri dari bilangan-bilangan  yang disajikan dengan sangat tidak  beraturan.  Prinsip pemakaian tabel bilangan random adalah pertama-tama memberi nomor
pada setiap  anggota populasi.  Daftar ini disebut kerangka pengambilan sampel (  sample frame ). Seandaianya terdapat 50 anggota populasi, maka setiap anggota diberi nomor mulai dari 01 sampai 50. Lalu gunakan jumlah digit  pada  pada tabel acak digit populasi.[3][3] Cara pemakaian pada tabel, pilih salah satu  nomor  dengan angka acak, gunakan digit terakhirnya. Anggota populasi pada  sample frame yang mempunyai nomor yang cocok dengan angka diatas,  diambil sebagai anggota sampel. Lalu lihat  nomor yang berikutnya  pada tabel, ambil dua digit terakhir. Anggota populasi pada sample frame  yang mempunyai nomor sama terpilih sebagai anggota sampel. Demikian seterusnya sampai jumlah sampel yang diharapkan terpenuhi.  Angka pada tabel yang nilainya di atas 50, atau angka yang berulang harus dibuang.

b.      Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan  bila populasi  mempunyai anggota/unsur  yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.  Sebagai contoh, suatu  lembaga mempunyai pegawai dari latar belakang  pendidikan yang beragam. Maka  populasi pegawai itu berstrata.  Misalnya  jumlah pegawai yang lulus = 10,  =40  ,   = 200,  SMK Teknik = 400, SMK Ekonomi = 200, SMP = 150. Jumlah  sampel yang harus diambil  mencakup seluruh strata pendidikan  tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
Bila diambil kesalahan 5 % , dengan menggunakan  Tabel Kracjie, maka jumlah sampelnya 278. Karena sampel berstrata dan stratanya menurut tingkat / latar belakang  pendidikan, maka sampel harus proporsional menurut latar belakang/ tingkat pendidikan. Jumlah sampel untuk tiap tingkat / latar belakang pendidikan adalah :
*               =   =  2,78 =  3
            *                                   =   = 11,12 = 11
                                                  =54,60 = 55
  SMK Teknik   =  109,20 = 110
 SMK Ekonomi = 54,60 = 55
SMP                                    = 40,70  = 41
                                    Terlihat bahwa pada teknik proportionate stratified random sampling,  untuk jumlah tiap strata ( subpopulasi )  berbeda, maka jumlah sampel  pada tiap strata ( subsampel ) pun berbeda
                                    Jika jumlah anggota tiap strata ( subpopulasi) sama, maka jumlah sampel pada tiap strata ( sub sampel ) akan sama.
                                    Teknik Proportionate Stratified Random Sampling dapat digambarkan  pada gambar 3.2 sebagai berikut :










Populasi Berstrata







Sampelyang representatif




 

          
           Diambil secara random
                                                                  
              proporsional
                                                                                  


                                                Gambar 2.2 : Teknik Stratified Random Sampling
c.       Disproportionate  Stratified Random Sampling
 Teknik ini digunakan  untuk menentukan jumlah sampel bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari suatu
PT tertentu mempunyai  3 orang lulusan , 4 orang lulusan*, 90 orang lulusan, 800 orang lulusan SMU, dan  700 orang lulusan SMP.  Maka 3 orang lulusan dan 4 orang lulusan * itu diambil semuanya  sebagai sampel, karena dua kelompok tersebut terlalu kecil bila dibandingkan kelompok , SMU dan SMP.
d.      Cluster Sampling ( Area Sampling )
Pengambilan sampel dengan kluster ini kadang-kadang dikaitkan dengan pengambilan sampel wilayah, sebab dalam pelaksanaannya sering dikaitkan dengan letak geografis.  Namun teknik sampling ini bisa pula digunakan pada pengambilan sampel yang lebih umum, yakni  pada suatu populasi  yang berstruktur.
Dalam pemakaian teknik ini, sering digunakan melalui lebih dari satu  tahap, yaitu tahap pertama  menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan individu-individu yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti pada gambar 2.3  berikut ini :
Populasi Daerah                                
A         B

E     D         C
              F
   G           H   

                                                         Tahap I                                    Tahap II    
A     C
     D 
  G  F        F         

                           Diambil dengan
                                 Di Random                                  diambil dengan
                                                                                                           Random         Sampel individu

Gambar 2.3  : Teknik Cluster Random Sampling
Pengambilan sampel dengan cara ini mirip dengan cara  Proportionate Stratified Random Sampling. Bedanya jika cara stratifikasi dipandang adanya  subpopulasi yang homogen, sedang  pada cara cluster unsur-unsurnya heterogen. Selanjutnya  dari masing-masing kluster dipilih sampel secara random sebanyak yang dibutuhkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 33 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi  itu dilakukan secara random, tetapi karena propinsi-propinsi di Indonesia berstrata maka pengambilan sampelnya  perlu menggunakan  stratified random sampling.

2.      Non Probability Sampling
Non Probability sampling adalah teknik yang  tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau angota populasi untuk  dipilih menjadi sampel (Sugiyono,1999;60). Dengan cara demikian semua elemen populasi belum tentu mempunyai kesempatan  untuk dipilih menjadi anggota sampel. Hal ini misalnya karena ada bagian tertentu  yang secara sengaja tidak dimasukkan  dalam pemilihan untuk mewakili populasi.  Cara ini juga sering  disebut sebagai pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu oleh peneliti.
Ada  6 cara pengambilan sampel cara ini yaitu :
a.      Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik  penentuan sampling  berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya  anggota populasi  terdiri 100. Maka setiap anggota populasi diberi nomor dari 001 sampai  dengan nomor 100. Misalnya peneliti menentukan hanya mengambil sampel dari populasi yang bernomor kelipatan 3. Maka anggota populasi yang terpilih menjadi anggota sampel adalah anggota populasi nomor 003, 006,009 dan seterusnya sampai 099.

Bila peneliti memutuskan mengambil sampel dari anggota populasi yang bernomor genap, maka anggota sampel yang terpilih sebagai sampel adalah 002, 004, 006 dan seterusnya sampai 100. Jelas terlihat bahwa setiap anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

b.      Sampling Kuota (Quota Sampling)
                  Teknik ini digunakan jika peneliti ingin  mengkaji suatu fenomena  dari beberapa sisi. Peneliti menentukan responden  yang akan dipilih  adalah orang-orang yang diperkirakan  akan menjawab semua sisi tersebut. Misalnya akan diteliti  perihal prestasi akademik mahasiswa  dari mahasiswa aktiv belajar di kelas, rajin membaca di perpustakaan dan  turut  serta dalam  organisasi kemahasiswaan, maka sasaran  kuesioner  diarahkan  pada mahasiswa yang  aktif kuliah,  rajin ke perpustakaan dan mahasiswa yang terlibat organisasi kemahasiswaan. Jadi mahasiswa-mahasiswa  seperti itu  jika  dijadikan sampel akan digunakan  sebagai wakil  dari populasi seluruh masiswa.

c.       Sampling Aksidental
                  Sampling aksidental adalah teknik penentuan  sampel berdasarkan  kebetulan, yaitu siapa saja  yang secara kebetulan  bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang  orang yang kebetulan ditemui itu  cocok sebagai sumber data.
                  Teknik ini disebut pula  cara dipermudah (Convinence Sampling). Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya  paling mudah dan cepat dilakukan  karena peniliti memiliki  kebebasan untuk  memilih siapa  saja  yang mereka temui.
                  Meskipun mempunyai ketidakterandalan yang tinggi , cara ini masih  bermanfaat, misalnya pada tahap  awal penelitian eksploratif saat studi penelitian pendahuluan untuk  mencari petunjuk-petunjuk penelitian.  Selanjutnya dari hasil tersebut dapat dilakukan langkah-langkah yang lebih terarah

d.       Sampling Purposive
                  Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan  tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.

e.       Sampling Jenuh
                   Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering digunakan bila jumlah populasi relatif kecil, misalnya kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f.       Snowball Sampling
                  Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil. Kemudian  sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehinggga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball.          Teknik snowball sampling, ditunjukkan pada gambar 2.4.  berikut :
                          
                                               
  A

                                                                                                            Sampel  Pertama        
                                                                                                                                                                                                                                                    Pilihan A
B

C
                                                                                           
                                                                                  
                                                                                                            Pilihan C
Pilihan B
I

H

G

F
   









D


E






















 
L

K

J

O

N

M
                                PilihanE  E                                                                          Pilihan D





                                                Gambar 2.4 : Snowball Sampling

2.2.1.3. Kekeliruan Sampling
            Suatu penelitian  sampel memang tidak dapat lepas dari kekeliruan, karena penelitian sampel hanya dilakukan terhadap sebagian populasi. Generalisasi yang dilakukan tentu saja akan memunculkan galat / eror. Yang harus diupayakan adalah meminimalisasi kesalahan tersebut. Teknik sampling  merupakan salah satu cara memperkecil kesalahan tersebut.
            Namun demikiann kekeliruan tetap saja bisa terjadi , baik pada saat pengumpulan data, saat melakukan pengolahan data, atau pun pada saat penyajian informasi hasil penlitian. Pada tahap pengumpulan data sampel terdapat medan-medan  dimana kekeliruan sampling[4][4] dapat terjadi. Oleh karena itu perlu dilakukan antisipasi secara dini dengan melakukan penentuan sampel secara cermat, pengambilan data yang valid, pengolahan data yang akurat, dan penyajian data informasi yang baik

2.2.2. Kegiatan Pengumpulan Data
.           Kegiatan pelaksanaan pengumpulan data, dapat berbentuk :
a.       Pengamatan mendalam (Systematic observation), yaitu pengamatan terhadap obyek yang akan dicatat datanya. Sebelumnya telah dilakukan persiapan matang, obyek apa yang akan diamati secara mendalam. Tidak lupa, instrumen yang dibutuhkan juga dipersiapkan.
b.      Wawancara Mendalam (Systematic interview),  yaitu pengumpulan data berbentuk pengajuan pertanyaan lisan. Out line dan draft pertanyaan telah dipersiapkan secara matang, demikian pula dengan instrumen yang dibutuhkan.
c.       Angket, yaitu pengumpulan data berbentuk pengajuan  pertanyaan tertulis melalui sebuah  daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
d.      Tes, misalnya tes hasil belajar, tes kecerdasan, tes kepribadian, tes minat dan bakat, dan lain sebagainya.
Dalam pengumpulan data statististik, beberapa alat (instrumen)  yang biasa dipergunakan antara lain :
a.       Daftar atau daftar Check (Check List)
b.      Skala Bertingkat (Rating Scale)
c.       Pedoman Wawancara (Interview Guide)
d.      Questionnaire (Daftar pertanyaan yang pertanyaannnya sudah disediakan jawabannya sudah disediakan untuk dipilih, atau disediakan tempat untuk mengisikan jawabannya)







[1][1] Sebagai contoh,  pada tahun 2002 kita dikejutkan oleh penelitian di Yogyakarta yang menyatakan  90% mahasiswa Yogyakarta telah melakukan hubungan seksual . Setelah ditelusuri, ternyata peneliti  dalam mengambil sambel ternyata tidak menggunakan teknik pengambilan sampel yang benar. Ia tidak obyektif dalam mengambil sampel. Pengambilan sampel diarahkan pada obyek yang  mendukung hipotesisnya.
[2][2] Mesin pembangkit angka acak dapat berupa dadu bermata banyak, atau  kini, telah dapat digunakan komputer.
[3][3] Karena jumlah populasi 50 ( dua digit ), maka  digit pada tabel angka acak adalah 2.
[4][4] Maksudnya  adalah terjadinya kekeliruan  pada saat menelaah sampel, misalnya dalam menentukan  jumlah sampel yang  harus diambil.