Jumat, 13 Maret 2015

5 SKALA PENGUKURAN SIKAP

5 SKALA PENGUKURAN SIKAP

A. SKALA LIKERT: digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Contoh :.
Preferensi 
1.Sangat Setuju
2.Setuju
3.Ragu-ragu
4.Tidak Setuju
5.Sangat Tdk Setuju
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) bersifat bersifat unfavorable (negatif).

Jawaban setiap item instrumen yang mengunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negative. Sistem penilaian dalam skala Likert adalah sebagai berikut:
Item Favorable: sangat setuju/baik (5), setuju/baik (4), ragu-ragu (3), tidak setuju/baik (2), sangat tidak setuju/baik (1)
Item Unfavorable: sangat setuju/ baik (1), setuju/ baik (2), ragu-ragu (3), tidak setuju/ baik (4), sangat tidak setuju/ baik (5).
Contoh :
No.
Pernyataan
Jawaban
SS
S
RR
TS
STS
1 Kita harus menjaga kebersihan X



2 Kita harus mematuhi peraturan
X


3 …………………………………………………




SS   = Sangat Setuju                                         TS   = Tidak Setuju
S     = Setuju                                                     1STS = Sangat Tidak Setuju
RR  = Ragu-Ragu

B. SKALA GUTTMAN: Skala pengukuran dengan tipe ini, akan di dapat jawaban yang tegas, yaitu ya atau tidak, benar atau salah, pernah

atau tidak, positf atau negatif, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala Likert terdapat interval 1,2,3,4,5 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Gutmann hanya ada dua interval yaitu “setuju atau tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang di tanyakan.
Contoh :
Apakah anda setuju dengan kenaikan harga BBM ?
a. Setuju                      b. tidak setuju
C. SKALA THURSTONE: Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak diukur.
Adapun contoh skala penilaian model Thurstone adalah seperti gambar di bawah ini.
download
Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.
Contoh : minat siswa terhadap pelajaran kimia,
No.
Pernyataan
Jawaban
7
6
5
4
3
2
1
1 Saya senang belajar kimia






2 Pelajaran kimia bermanfaat






3 Saya berusaha hadir tiap pelajaran kimia






4 Saya berusahan memiliki buku pelajaran kimia






Contoh lain : Angket yang disajikan menggunakan skala thurstone
Petunjuk : Pilihlah 5(lima) buah pernyataan yang paling sesuai dengan sikap anda terhadap pelajaran matematika, dengan cara membubuhkan tanda cek (v) di depan nomor pernyataan di dalam tanda kurung.
(           )  1. Saya senang belajar matematika
(           )  2. Matematika adalah segalanya buat saya
(           )  3. Jika ada pelajaran kosong, saya lebih suka belajar matematika
(           )  4. Belajar matematika menumbuhkan sikap kritis dan kreatif
(           )  5. Saya merasa pasrah terhadap ketidak-berhasilan saya dalam matematika
(           )  6. Penguasaan matematika akan sangat membantu dalam mempelajari bidang studi lain
(           )  7. Saya selalu ingin meningkatkan pengetahuan & kemampuan saya dalam matematika
(           )  8. Pelajaran matematika sangat menjemukan
(           )  9. Saya merasa terasing jika ada teman membicarakan matematika
D. SEMANTIK DIFERENSIAL: Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.
Contoh : Penggunaan skala Semantik Diferensial mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Bertanggung Jawab 7 6 5 4 3 2 1 Tidak Bertanggung Jawab
Memberi Kepercayaan 7 6 5 4 3 2 1 Mendominasi
Menghargai Bawahan 7 6 5 4 3 2 1 Tidak Menghargai Bawahan
Keputusan Diambil Bersama 7 6 5 4 3 2 1 Keputusan Diambil Sendiri
Contoh lain : Penilaian pelajaran kimia
Menyenangkan  !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Membosankan
Sulit                  !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Mudah
Bermanfaat        !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Sia-Sia
Menantang         !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Menjemukan
E. PENILAIAN (RATING SCALE): Data-data skala yang diperoleh melalui tiga macam skala yang dikemukakan di atas adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale, data yang diperoleh adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Seperti halnya skala lainnya, dalam rating scale responden akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Rating scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial, ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain. Dalam rating scale, yang paling penting adalah kemampuan menterjemahkan alternative jawaban yang dipilih responden.
Contoh :
Kenyamanan ruang tunggu RSU Kartini :
5          4          3          2          1
Kebersihan ruang parkir RSU Kartini :
5          4          3          2          1

tekhnik sampling probabilitas dan non-probabilitas

tekhnik sampling probabilitas dan non-probabilitas

Metode Sampling
Dalam perencanaan suatu penelitian,peneliti dihadapkan pada pilihan untuk mempelajari keseluruhan unsure populasi (manusia atau benda) atau mempelajari hanya sebagian unsure yang diambil dari bagian atau populasi yang lebih besar.
Sampling terdiri dari berbagai jenis. Dalam perencanaan sampling akan ditentukan bagaimana unsure diambil dari populasi yang lebih besar atau populasi induk dan berapa jumlah unsure yang akan diambil.
Sifat perencanaan sampling
Kebanyakan perencanaan sampling dapat dikategorikan menurut Probability dan Non-probability.
Perencanaan sampling probabilitas
Perencanan yang menentukan probabilitas atau besarnya kemungkinan setiap unsure dijadikan sampel. Factor pengawasan yang mendasari semua perencanaan sampling probabilitas yang utama ialah sifat keacakan. Perencanaan sampling probabilitas yang biasa digunakan mencakup :
• Sampling acak sederhana (simple random sampling)
Pengambilan sampel dalam teknik random ini, peneliti ini memperkirakan sampel dalam populasi berkedudukan sama dari segi2 yang akan diteliti. Dengan cara mengambil acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Dengan syarat anggota populasi homogen.
Contoh:
Mahasiswa yang baru masuk Perguruan Tinggi Negeri, mereka sama2 tamatan SMA dan sama2 lulus ujian SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru).
Disini dapat dikatakan bahwa populasi mahasiswa baru tersebut homogen dari asal sekolah dan lulus ujian SPMB. Artinya kita mengambil beberapa saja diantara mereka untuk sampel penelitian, dan yang mana saja, karena kita telah beranggapan bahwa mereka mempunyai kedudukan yang sama dengan kriteria2 yang sama.
• Sampling acak distratifikasi secara proposional (proportioned stratified random sampling)
Jika penelitian kita memerlukan data bertingkat, berstrata atau bergelombang dan berlapis2. Yang mungkin berbentuk kelas,umur,daerah dan kedudukan, atau sejenis maka kita menggunakan sampel stratified dengan mengambil sampel pada strata2 tertentu sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
Contoh:
Populasi penelitian seluruh Mahasiswa UNIMED, sampelnya bisa pada strata tingkat I, tingkat II,strata S1 dan seterusnya.
• Sampling acak distratifikasi secara tidak(kurang) proposional(disproportioned stratified random sampling)
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tapi kurang proposional.
Contoh:
Tingkah laku militer, mungkin hanya sedikit jumlah jenderal dalam sampenya sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan semua jenderal dalam sampelnya dan mengurangi proporsi jabatan lain untuk mendapatkan jumlah komposisi sampel. Dengan menggunakan tabel peneliti dapat menggunakan sampel acak pengelompokkan proposional. Dengan menggolongkan sesuai dengan jenis kejahatan. Tetapi ia melihat bahwa populasi yang berisi kasus pemerasan hanya 1%. Akibatnya, sampel berubah menjadi tidak proposional, apabila sampelnya di hasilkan 100, dengan menggunakan 10 kasus pemerasan.
Tabel. Distribusi kejahatan populasi dalam militer
Jenis kejahatan Frekuensi Persentase dalam [populasi
Perkosaan 50 5%
Pembongkaran 100 10%
Pencurian mobil 500 50%
Penyerangan 10 1%
Pencurian 140 14%
Perampokan 50 15%
Pembunuhan 50 5%
Jumlah N= 100 100%
• Sampling area atau gugus (area or cluster sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Dalam penggunaan sampel cluster ini umumnya kesatuan2 yang diteliti, merupakan kelompok2 yang lebih besar.
Contoh:
Kelompok remaja putus sekolah, kelompok kelas, atau sekolah2 dan sebagainya.
Perencanaan sampling nonprobabilitas
Teknik pengambilan sampel tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tujuan umum dari perencanaan sampling probabilitas ialah memperoleh gambaran kasar dari sekumpulan unsure sampel.
Dalam sampel non probabilitas sukar untuk menentukan jumlah kesalahan sampling, sehingga peneliti tidak dapat menggeneralisasikan secara langsung beberapa temuannya dengan populasi yang lebih besar. Ini karena populasi yang ada sebagian besar tidak teridentifikasi dengan salah satu atau semua variasi sampling nonprobabilitas. Perencanaan sampling non probabilitas yang biasa digunakan mencakup:
• Sampling sistematik
Teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Sampling sistematik biasanya digunakan dalam traffic survey atau marketing research.
Ada beberapa peneliti menganggap sampling sistematik bukan merupakan sampling acak, padahal sampling sistematik merupakan sampling acak karena pemilihan pertama (menggunakan random start) dilakukan secara acak. Beberapa peneliti menyebut sampling sistematik sebagai Quasi random sampling atau Pseudo random sampling.
Contoh:
Jika peneliti ingin mengetahui orang2 yang berobat kerumah sakit di sebuah desa, kita telah mengetahui syarat2 untuk berobat di rumah sakit, dengan mendaftar diri ke receptionist dan mendapatkan nomor antrian,sehingga mereka dapat berobat.
• Sampling kuota
Teknik untuk menentukan sampel secara bebas dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Penggunaan teknis kuota sampel ini perlu menetapkan strata populasi berdasarkan tanda2 yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap variable yang akan diselidikan.
Sedangkan penetapan kuota tergantung kepada kepentingan peneliti dapat berdasarkan factor social, factor ekonomi, factor geografis, atau factor politis.
Contoh:
Jika kita ingin meniliti orang2 yang berambut kribo disebuah kota, kita telah mengetahui ciri2nya yaitu rambutnya kribo dan kemudian kita menetapkan kuotanya sejumlah yang telah kita tentukan.
Penggunaan sampel kuota ini dalam penelitian ilmu social sering digunakan oleh para peneliti, karena dapat menentukan sampelnya dengan tidak terlalu ikat.
• Sampling aksidental
Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
Contoh:
Jika kita ingin meneliti orang2 yang telah berambut putih diseluruh kota, sampelnya kita cari disekeliling kota dan dimana dan kapan saja kita menemui orang2 yang berambut putih, kita ambil sebagai sampelnya, jadi semua sampel tersebut hanya secara kebetulan saja dan tak direncanakan.
Dalam suatu penelitian ilmiah biasanya cara sampel aksidental ini jarang digunakan, kecuali dalam penelitian2 tertentu yang mungkin dapat menggunakap sampel ini, hal itu tentu sesuai dengan tujuan penelitiannya. Dan bukan penelitian ilmiah.
• Sampling purposive
Teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya pada penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.
Contoh:
Jika penel;iti ingin mengetahui perbedaan sikap antara pemuda2 dikota besar terhadap kenekalan remaja, dalam hal ini mestinya peneliti telah mengetahui lebih dulu ciri2 pemuda di perkotaan.
Berdasarkan ciri2 tersebut kemudian peneliti memilih daerah kelompok2 tertentu sebagai inti/kuncinya sebagai sampel,sedangkan kelompok dibagian lain kota dapat ditinggalkan.
• Sampling bola salju (snowball sampling)
Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
Contoh:
Jika peneliti ingin mengetahui penyebaran informasi medis diantara ahli medis, sampling snowball dapat digunakan untuk menentukan bagaimana seorang ahli medis akhirnya menggunakan obat2an dan peralatan tertentu. Metode tersebut dapat menggambarkan melalui kelompok ahli medis yang mana informasi tentang obat baru yang beredar.
Apakah ahli medis tersebut membacanya dalm suatu jurnal medis atau mendengarkannya pada suatu konferensi medis, dan kalau memang demikian, siapa yang dihubungi diantara teman2 ahli medisnya mengenai hal tersebut? Bagainmana informasi diantara ahli medis
menyebar dalam suatu masyarakat tertentu? Sampling snowball dapat menjawab pertanyaan diatas.
• Sampling saturasi
Sama sekali bukan sampling, karena metode tersebuit didefenisikan sebagai perolehan semua unsure sampel dalam suatu populasi tertentu yang mempunyai karakteristik yang diinginkan peneliti.
Contoh:
Jika kita ingin meneliti semua pemakai Honda Beat dalam sebuah komunitas kecil.
• Sampling dense
Sampling secara padat. Terletak diantara sampling acak sederhana dan sampling saturasi. Dengan menaikkan fraksi sampling menjadi satu setengah dan mengambil mayoritas responden yang memiliki sifat atau karakter yang diinginkan peneliti bisa dianggap sampling dense.
Contoh:
Apabila komunitas Honda Beat terdapat 500 orang di medan, peneliti hanya mengambil setengah dari 500 orang yang memiliki Honda Beat
BAB I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang Masalah
Penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam menyikapai berbagai keilmuan, penelitian merupakan petunjuk utama penyelesain masalah. Awal dari sebuah penelitian adalah adanya sebuah problem (masalah). Masalah ilmu social dan ilmu pendidkan sangat kompleks, semenjak adanya dunia sampai sekarang tidak pernah lepas dari yang namanya masalah, untuk mencari solusi (jalan keluar) masalah, dengan demikian diperlukan penelitian secara logis, sistimatis, dan empiris, sebagai pencerahan untuk mengetahiu kebenaran ilmiah.
Dewasa ini metode ilmiah merupakan komandan terdepan yang dipercayai banyak manusia dalam mengungkap atau menemukan berbagai fenomena di alam semesta. Hasil kebenaran melalui metode ilmiah telah dirasakan manfaatnya bagi manusia baik di bidang teknologi, sains, maupun bidang lainnya.

Suatu hal yang sangat menyedihkan, penelitian ilmiah kurang begitu diminati, sebagian dosen dan mahasiswa melaksanakan penelitian ilmiah hanya sebatas kewajiban, belum menjadi suatu keharusan dan budaya, penelitian dilakukan lantaran proyek serta mnedapatkan angka kredit untuk kenaikan pangkat, sementara mahasiswa melakukannya sebatas untuk menyelesaikan pendidikan atau mendapatkan gelar pada strata satu (S1), strata dua (S2), dan strata tiga (S3).
Problem ini menjadi kajian kita bersama untuk memecahkannya sehingga penelitian ilmiah di masa depan menjadi primadona atau diminati oleh banyak orang.
B.     Rumusan Masalah
Setelah mengetahui problematika masyarakat khususnya kalangan akedemisi yang masih belum mengetahui cara melakukan penelitian ilmiah, atau mereka yang masih kurang berminat untuk meneliti, maka kami melalui tulisan ini mencoba merangsang semua pihak untuk ikut dalam mengebangkan atau menghidupkan kembali girah menelti, karena sebagai mana yang telah kita ketauhui bahwa meneliti khususnya penelitian ilmiah memiliki manfaat yang sangat besar untuk menemukan jawaban dari sebuah masalah atau untuk mencari kebenaran terhadapa sesuatu.
Dalam tulisan ini kami hanya akan sedikit membahas tentang sekala pengukuran dan instrument penelitian dalam bidang penelitian kuantitatif. Kami menghususkan pada sub-Bab ini dan hanya terfokus pada satu bidang penelitian yaitu penelitian kuntitatif. Karena bab yang lain akan dibahasa oleh beberapa teman kami yang lain.
Pada penulisan malakah kali ini kami mencoba untuk membuat sedikit lebih ramping. Yang mana di awal penulisan kami memulai dari kata pengantar kemudian masuk pada Bab I yang berisi tentang:
a.       Latar belakang masalah
b.      Rumusan masalah
Kemudian Bab II-III kami isi dengan pembahasan, yang mana di sana akan membahas sedikit tentang sekala pengukuran dan instrument penelitian dalam penelitian kuntitatif. Kemudiaan Bab IV yaitu penutup, kesimpulan, dan saran terakhir daftar pustaka.
 BAB II
Jenis Skala Dan Sikap Skala Pengukuran
Penelitian pada dasarnya merupakan satu upaya memahami masalah-masalah yang ditemui dalam kehidupan manusia, keterbatasan manusia untuk memahami permasalahan tersebut hanya mengndalkan pengalaman hidup sehari hari secara sporadic dan tidak tertata, jelas tidak cukup menjadi dasar yang kuat bagi pemahaman terhadap satu permasalahan.[1]
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variable yang diteliti. Dengan demikian imliah instrument yang akan digunakan untuk penelitian tergangung pada jumlah variable yang ditelti. Jika variablenya lima maka instrumennya lima.
karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrument harus mempunyai skala.[2]
A.    Jenis Sekala Pengukuran
Sekala pengukuran merupakan kesepakatan yanga digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat  ukur, sehingga alat ukur tersebut jika digunakan akan menghasilkan data kuantitatif. Contohnya timbangan emas sebagai instrument untuk mengukur berat emas.
Jenis-jenis sekala pengukuran ada empat : sekala nominal, sekala ordinal, sekala interval, dan sekala ratio.
1.      Sekala nominal
Sekala nominal adalah sekala yang paling sederhana, disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai symbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik yang lainnya.[3]
Sekala nominal adalah sekala yang hanya mendasarkan pada pengelompokkan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif.[4] Adapaun ciri-ciri dari sekala nominal adalah:
a.       Kategori data bersifat mutually exclusive (salign memisah).
b.      Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang), Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan, Angka yang tertera hanya lebel semata.Tidak mempunyai ukuran baru, Dan tidak mempunyai nol mutlak.
2.      Skala ordinal
Sekala ini adalah pengukuran yang mana sekala yang digunakan disusun secara runtut dari yang rendah sampai yang tinggi. Sekala ordinal sekala yang diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai sekala yang terendah atau sebaliknya.[5]
Adapun ciri-ciri dari sekala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan sekala berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.
3.      Skala interval
Sekala interval adalah sekala yang menunjukkan jarak satu data dengan data yang lain dengan bobot nilai yang sama, sementara menurut (Uhar) dalam bukunya, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan. Menjelaskan bahwa sekala interval adalah sekala pengukuran yang mana jarak satu tingkat dengan yang lain sama. Ciri-ciri dari sekala ini menurut uhara ada lima :
1.      Kategori data bersifat saling memisah.
2.      Kategori data memiliki aturan yang logis.
3.      Kategori data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang dimilikinya.
4.      Perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori.
5.      Angka nol hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut).
4.      Sekala rasio.
Skala ini adalah sekala interval yang benar-benar memiliki nilai nol mutlak. Dengan demikian sekala rasio menunjukkan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat.
B.     Skala sikap
Sekala ini hanya digunakan untuk mengukur sikap, perkembangan ilmu sosiologi dan pisikologi yang banyak menggunakan ini untuk khusus mengukur sikap. Beberapa sekala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan social antara lain :
1.      Skala likert
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan prsepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena atau gejala sosialyang terjadi. Hal ini sudah sepesifik dijelaskann oleh peneliti. Yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian. Kemudian dijabarkan melalui dimensi-dimensi menjadi sub-variabel , kemudian menjadi indicator yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan variabel penelitian.[6]
Penyataan atau pernyataan tadi kemudian direspon dalam bentuk sekala likert, yang diungkapkan melalui kata-kata misalnya ; setuju, sangat setuju, tidak pasti, tidak setuju, sangat tidak setuju.
2.      Skala guttuman
Skala guttaman menggunakan dua jawaban yang tegas dan konsisten, yaitu ya-tidak, postif-negatif, tinggi-rendah, yakin-tidak yakin, setuju-tidak setuju, dll.
3.      Semantic defentrial.
Skala differensial digunakan untuk mengatur sikap perbedaan simantik, responden untuk menjawab pernyataan dalam satu garis kontinum yang bertentangan yaitu positif negative. Data yang diperoleh biasanya data interval yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang atau kelompok.[7]
Skala ini berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub), seperti : panas-dingin, baik-buruk, dll. Karakteristik bipolar mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek :
a.       Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik satu objek
b.      Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak.
c.       Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan satu objek
Contoh :
                                                                         netral
Cerdas                                                                                                                           bodoh
            0          1             2            3            4            5             6          7            8         9
4.      Rating scale
            Berdasarkan ketiga sekala semua data yang diproleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan rating scale adalah data mentah yang didapar berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
            Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia, tapi menjawab dari jawaban kuantitatif, dengan demikian raing scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja.[8]
BAB III
Instrument Penelitian
A.    Pengertian Instrument Penelitian
Dalam penelitian bidang pendidikan, teknik pengumpulan data yang lazim adalah menggunakan intrumen. Dalam menjalankan penelitian data merupakan tujuan utama yang hendak dikumpulkan dengan menggunakan instrument. Instrumen penelitian adalah nafas dari penelitian. Menurut (Arikunto, 1995;177) ‘’instrumen penelitian adalah sesuatu yang penting dan strategis kedudukannya dalam pelaksanaan penelitian.’’[9]
Keadaan-keadaan telah mendorong upaya-upaya pakar untuk membuat prosudur dan alata yang dapat digunakan guna mengungkap kenyataan-kenyataan (data) yang dapat diajdikan dasar dalam menyelesaikan berbagai masalah. Untuk itu instrument penelitian menempeti kedudukan penting dalam sebuah penelitian, hal ini tidak lain karean keberhasilah sebuah penelitian dipengaruhi pula oleh instrument yang dipergunakan.[10]
Kualitas data sangat menetukan kualitas penelitian. Kualitas data tergantung pada kualitas alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Pada dasarnya terdapat dua kategori instrument yang digunakan dalam penelitian, yakni :
a.       instrument digunakan untuk memproleh informasi atau data tentang keadaan objek atau proses yang diteliti.
b.      Instrumen digunakan untuk mengontrol objek atau proses yang diteliti.
Data kondisi objek atau spesifikasi proses yang diukur dapat diulang dengan menggunakan dua instrument tersebut.[11]
Dalam suatu penelitian kuantitatif (adanya jarak antara subjek dan objek) yang bersifat verifikasi hipotesis, instrument penelitian merupakan alat yang dipakai untuk menjembatani antara subjek dan objek (secara subtansial antara hal-hal teoritis dan empiris, antara konsep dan data).[12]
Teknik pengumpulan data yang lazim digunakan adalah menggunakan adalah instrumen yang sempurna, wawancara, observasi, dokumentasi, sperti pada table di bawah ini.
B.     Beberapa hal yang penting dalam menyusun istrumen
Menurut (Nana Sudjana), dalam penyusunan instrument penelitian ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
1.      Masalah dan variable yang diteliti termasuk indicator variable harus jelas sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis istrumrn yang digunakan.
2.      Sumber data/ informasi, baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistimatika item dalam instrument penelitian.
3.      Keterandalan dalam instrument itu sendiri sebagai alat pengumpulan data, objekvitas, dll.
4.      Jenis data yang diharapkan dari pengguna instrumen harus jelas. Sehingga peneliti dapat menetukan gaya analisis dan pemecahan masalah penelitian.
5.      Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan.[13]
C.    Sarana instrument penelitian
a.       Angket
Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan pada orang lain dengan tujuan agar orang yang diberi bersedia memberikan respon yang sesuai. Angket dibedakan menjadi tiga yaitu :[14]
1.      Angket terbuka, adalah angket yang disajikan dalam bentuk isian. Tentunya disertai dengan pertanyaan.
2.      Angket tertutup, adalah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana, yang mana responden tinggal membri tanda centang pada kolom yang disediakan terhadapa jawaban yang sesuai dengannya. Biasanya dalam bentuk multipelchoise.
3.      Campuran, Disamping dari kedua ini ada combinasi dari dua jenis angket di atas.
b.      Daftar cocok (Checlist)
Ini hampir sama dengan angket tertutp, karena hanya tinggal member tanda pada tes yang diberikan terhadap jawaban keadaan kita. Bedanya dengan angket, checklist dibuat sedikit lebih sederhana.
c.       Sekala
Skala menunjuk pada sebuah instrument pengumpul data yang bentuknya sperti daftar cocok tapi alternative yang disediakan merupakan sesuati yang berjenjang.[15] Skala banyak digunakan untuk mengukur aspek-aspek kpribadian atau kejiwaan.
D.    Jenis instrument penelitian
1.      Tes. Yaitu suatu alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban, baik secara tertulis maupun lisan. Sehingga dapat mengetahui kemampuan individu  yang bersangkutan.
2.      Kuesioner. Instrument penelitian dalam bentuk pertanyaan yang biasanya dimaksudkan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan pendapat, aspirasi, prespsi, keinginan, keyakinan, dll secara tertulis. Dan apabila dilakuakan dengan menggunakan lisan maka disebut wawancara. Untuk lebik baiknya ini digabungkan, antara liasan dan tilisan untuk memperkuat data.
3.      Sekala. Merupakan alat untuk mengukur nilai/keyakinan, sikap dan hal-hal yang berkaitan dengan personological. 
BAB IV
Penutup
A.    Kesimpulan
Dalam proses penelitian, tentu saja hal yang paling penting  adalah apa yang diteliti. Maka ketika kita ingin mengumpulkan data dari apa yang kita teliti maka disinilah peran metode pengumpulan dan data instrument penelitian.
Ketika peneliti sudah mengetahui apa tujuan dari penelitiannya dan apa yang ia teliti maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana memilih metode dan instrumen dalam penelitian yang ia lakukan.
B.     Saran-saran
Dari penjelasan singkat kami mengenai skala pengukuran dan instrument penelitian kirannya dapat membantu para pembelajar agar tidak tabu lagi tentang bagai mana memilih instrument yang tepat untuk penelitiannya.
Kami menyadari bahwa makalah kami in sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan makalah kami kedepannya.
Akhir kata, tiada hal yang sempurna dari sajian kami, karena masih dalam peruses pembelajaran, dan harapan kami semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
  
Daftar Pustaka
Suharsaputra Uhar, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012.
Santoso Gempur, fundamental metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif, prestasi pustaka, Jakarta 2012.
Iskandar, metodologi penelitian pendidikan dan social (kualitatif dan kuantitatif), gaung persada press (GP press), Jakarta 2009.
Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R & D, alfabeta, bandung 2012
Makalah metodologi penelitian, sekala pengukuran dan istrumen penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.



[1] Uhar suharsaputra, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012. Hal 94.
[2] Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R & D, alfabeta, bandung 2012. Hal 92
[3] Makalah metodologi penelitian, Sekala Pengukuran Dan Istrumen Penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.
[4] Uhar suharsaputra, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012. Hal 72
[5] Makalah metodologi penelitian, sekala pengukuran dan istrumen penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.
[6] Iskandar, metodologi penelitian pendidikan dan social (kualitatif dan kuantitatif), gaung persada press (GP press), Jakarta 2009. Hal 83.
[7] Iskandar, metodologi penelitian pendidikan dan social (kualitatif dan kuantitatif), gaung persada press (GP press), Jakarta 2009. Hal 84.
[8] Makalah metodologi penelitian, sekala pengukuran dan istrumen penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.
[9] Iskandar, metodologi penelitian pendidikan dan social (kualitatif dan kuantitatif), gaung persada press (GP press), Jakarta 2009. Hal 78.
[10] Uhar suharsaputra, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012. Hal 94
[11] Gempur santoso, fundamental metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif, prestasi pustaka, Jakarta 2012. Hal 62
[12] Uhar suharsaputra, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012. Hal 94.
[13] Uhar suharsaputra, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan, refika aditama, bandung 2012. Hal 95.
[14] Makalah metodologi penelitian, sekala pengukuran dan istrumen penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.
[15] Makalah metodologi penelitian, sekala pengukuran dan istrumen penelitian, oleh daud rasid al baar dan matraji, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Srby 2011/2012.