Materi
Teknik Pengambilan Sampel Statistika Dasar semester 2
BAB II
PENGUMPULAN DATA STATISTIK
Ada dua teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data statistik, dengan sensus (population research) atau survei (sample research). Sensus adalah pengumpulan data dimana setiap
unit anggota populasi diteliti. Jadi dilakukan pencacahan lengkap. Sedangkan
survei (sampling) adalah cara
pengumpulan data yang hanya meneliti sebagian saja dari unit anggota populasi.
Pencacahan dilakukan terhadap sampel yang terpilih.
2.1. Populasi (Universe)
Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas obyek yang akan diteliti yang didefinisikan dengan jelas,
dengan karakteristik dan kuantitas tertentu.
Populasi bukan hanya orang,
tetap juga benda-benda hidup maupun mati yang ada semesta. Populasi juga bukan
hanya jumlah yang ada dalam obyek pengamatan, melainkan juga meliputi karakter/sifat
yang ada pada obyek tersebut.
Misalnya
akan dilakukan penelitian di SMA X, maka SMA X merupakan populasi. Sekolah
tersebut mempunyai sejumlah orang, hal ini berarti SMA X merupakan populasi
dalam arti jumlah. Tetapi SMA X juga mempunyai karakteristik tertentu pada
orang-orangnya. Misalnya efektivitas mengajar guru-gurunya, kedisiplinan siswa
maupun gurunya /obyek, gaya kepemimpinan kepala sekolahnya, dan lain
sebagainya. Yang demikian merupakan populasi dalam arti karakteristik.
Satu
orang pun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai
berbagai karakteristik. Misalnya, gaya bicara, hobi, cara bergaul,
kepemimpinannya dan lain-lain Atau seorang siswa mempunyai catatan prestasi
belajar dalam suatu mata pelajaran tertentu, dari semester I sampai VI. Catatan
prestasi tersebut merupakan populasi.
Proses
pengambilan data dari seluruh obyek pada populasi disebut Sensus atau
penelitian populasi (population research). Penelitian yang demikian
biasanya sangat kompleks dan membutuhkan waktu tenaga, dan biaya yang sangat
besar. Disamping itu tidak dapat
dilakukan pengamatan secara mendalam. Namun sensus mempunyai kelebihan, antara
lain : dapat diketahui gambaran yang sebenarnya dari suatu populasi serta tidak
mempunyai sampling error. Secara lengkap, kelebihan dan kekurangan sensus
ditampilkan pada tabel 2.1. berikut .
Tabel 2.1.
Kelebihan dan Kekurangan Sensus
|
No
|
KELEBIHAN
|
KEKURANGAN
|
|
1.
|
Dapat diketahui gambaran
sebenarnya dari suatu populasi
|
Biaya, waktu dan tenaga yang
dibutuhkan sangat besar
|
|
2.
|
Dapat diperoleh kerangka sampel (sample
frame) yang berguna untuk survei
|
Kesalahan dari petugas (nonsampling
error) sulit diperkirakan
|
|
3.
|
Tidak mempunyai sampling error
(kesalahan karena pengambilan sampel)
|
Jenis data yang diperoleh terbatas
dan sifatnya sederhana (tidak mendalam)
|
2.2. Sampel
Sampel merupakan sebagian dari jumlah
karakteristik yang dimiliki populasi. Dengan kata lain sampel merupakan
himpunan bagian dari populasi. Apa yang
dipelajari dalam sampel, kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi.
Dengan kata lain sifat-sifat sampel dapat digeneralisasi untuk populasi.
Penelitian
yang dilakukan terhadap sampel disebut penelitian sampel (sampel research) atau
survei. Penelitian sampel
dilakukan disebabkan adanya kendala,
misalnya adanya populasi yang sangat kompleks sehingga sulit didefinisikan,
adanya kendala biaya, waktu serta tenaga . Dengan alasan inilah, penelitian sampel
sering digunakan. Disamping itu,
penelitian sampel sering dipilih karena terhadap obyek yang kecil dapat
dilakukan pengamatan yang lebih teliti dan mendalam. Tetapi penelitian sampel
mempunyai kekurangan, antara lain :
gambaran tentang poluasinya hanya merupakan taksiran, bukan nerupakan
gambaran yang sebenarnya, dismping itu diperlukan kerangka sampel ( sample
frame), dan sering kali metode
pengambilan sampel tidak tepat, sehingga
tidak dapat dihindarkan terjadinya kesalahan. Tabel 2.2. berikut menampilkan
kelebihan dan kekurangan penelitian sampel.
Tabel 2.3
Kelebihan dan Kekurangan Penelitian
Sampel (Survei)
|
No
|
KELEBIHAN
|
KEKURANGAN
|
|
1.
|
Biaya, waktu dan tenaga yang
dibutuhkan jauh lebih sedikit
|
Gambaran tentang populasinya hanya
merupakan taksiran
|
|
2.
|
Kesalahan dari sampling error
dapat diukur
|
Memerlukan kerangka sampel
|
|
3.
|
Karakteristik/jenis data yang
tercakup lebih banyak dan terinci
|
Metode pengambilan sampel tidak
terlalu tepat
|
2.2.1.Teknik Sampling
Secara
teoritis, hasil penelitian sampel dapat digeneralisasi untuk populasi sepanjang
telah ditempuh prosedur yang benar. Salah satu prosedur yang harus dilakukan dalam penelitian sampel adalah
teknik sampel , yakni kaidah-kaidah dalam menentukan besar sampel dan obyek
yang menjadi sampel. Teknik pengambilan sampel dalam suatu penelitian
perlu menggunakan kaidah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, atau
secara lebih khusus secara statistik. Apabila salah dalam pengambilan sampel,
maka ada kemungkinan hasil generalisasi atau penarikan kesimpulan untuk populasi menjadi tidak akurat.[1][1] Teknik Sampling meliputi dua hal yaitu teknik
penentuan ukuran sampel dan teknik
pengambilan sampel.
2.2.1.1. Teknik Penentuan Ukuran
Sampel
Ukuran sampel adalah jumlah sampel
minimal yang harus diambil dari populasi agar sampel representatif. Penentuan
ukuran sampel tergantung pada populasinyaYakni dilihat dari homogenitas populasi dan besar
populasi. Bila populasi sangat homogen dan ukurannya kecil, maka dapat
diambil sampel dengan ukuran kecil. Sebaliknya bila populasi sangat heterogen
atau ukurannya besar, maka diperlukan populasi dalam ukuran besar.
Para ahli
mengemukakan bermacam-macam cara dalam menentukan ukuran sampel, yang berikut
akan dipaparkan.
- Pendapat Slovin
Menurut
Slovin, jumlah minimal yang dapat diambil agar sampel representatif terhadap
populasi adalah :
n
=
dimana
n = ukuran sampel (jumlah sampel)
N = ukuran populasi
e =
persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel
yang masih dapat ditolerir, misalnya 2 %.
Pemakaian
rumus di atas mempunyai asumsi bahwa
populasi berdistribusi normal.
Contoh 2.1 :
Akan
dilakukan penelitian tentang minat siswa SMA/MA/SMK di wilayah eks Karesidenan
Pekalongan terhadap STAIN. Berdasarkan informasi, jumlah siswa SMA/MA/SMK di
seluruh wilayah eks Karesidenan
Pekalongan adalah 10.000. Agar penelitian tersebut menghemat biaya, waktu dan
tenaga dilakukan penelitian sampel. Kesalahan yang diinginkan sebesar 3%. Maka
sampel yang diambil berjumlah :
n
= 10.000/(1+10.000x0,032) = 1.000 siswa
Jadi jumlah sampel minimal yang harus diambil
untuk penelitian tersebut adalah 1.000
siswa
b.
Pendapat Gay
Menurut
Gay, ukuran minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan kepada desain
penelitian yang digunakan, yaitu :
a.
Untuk penelitian deskriptif, minimal
10 % populasi. Untuk populasi relatif kecil minimal 20 % populasi.
b.
Untuk penelitian menggunakan teknik
analisis korelasional minimal 30 obyek.
Contoh 2.2. :
Seorang
peneliti ingin mengetahui tingkat kesadaran menjalankan ibadah pada penduduk
suatu desa. Untuk tujuan tersebut, ia melakukan pengamatan terhadap penduduk
desa tersebut. Bila jumlah penduduk desa 1.000, maka sampel yang harus diambil
sebanyak 1.000 x 10% = 100 penduduk.
c.
Pendapat Kracjie
Pendapat
Kracjie hampir sama dengan Slovin, hanya Kracjie dalam melakukan perhitungan
ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu
mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Kracjie selanjutnya membuat tabel
seperti ditunjukkan dalam tabel 2.3., sehingga kita tidak perlu melakukan
perhitungan yang rumit.
Dari
tabel tersebut, bila jumlah populasi 100, maka sampelnya 80. Bila populasi
1.000 maka ukuran sampelnya 278, dan bila populasinya 10.000 maka ukuran
sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi makin kecil persentasi
sampel. Oleh karena itu tidak tepat
bila ukuran populasinya berbeda,
persentasinya sama, misalnya selalu 10%.
Tabel 2.3
Tabel Kracjie
|
N
|
S
|
N
|
S
|
N
|
S
|
N
|
S
|
N
|
S
|
|
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
|
10
14
19
24
28
32
36
40
44
48
52
56
59
63
66
70
73
76
|
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
|
80
86
92
97
103
108
113
118
123
127
132
135
140
144
148
152
155
159
|
280
290
300
320
340
360
380
400
420
440
460
480
500
550
600
650
700
750
|
162
165
169
175
181
186
191
196
201
205
210
214
217
226
234
242
248
254
|
800
850
900
950
1.000
1.100
1.200
1.300
1.400
1.500
1.600
1.700
1.800
1.900
2.000
2.200
2.400
2.600
|
260
265
269
274
278
285
291
297
302
306
310
313
317
320
322
327
331
335
|
2.800
3.000
3.500
4.000
4.500
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
15.000
20.000
30.000
40.000
50.000
75.000
100.000
|
338
341
346
351
354
357
361
364
367
368
370
375
377
379
380
381
382
384
|
2.2.1.2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik Pengambilan sampel
pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability
sampling dan Non Probability sampling.
Probability sampling meliputi simple random, proportionate
stratified random, dispropotionate stratified random dan area random. Non probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling
aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling. (Sugiyono, 1999;57).
1. Probability Sampling ( Random
Sampling )
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel ( Saleh,
1988; 15) , . Metode ini dianggap merupakan metode yang terbaik, karena
peneliti terbebas dari subyektifitas. Generalisasi hasil penelitian sampel
terhadap populasi bisa lebih dipertanggungjawabkan.
Probability sampling meliputi :
a.
Simple Random Sampling
Dikatakan
simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi sepenuhnya
dilakukan random, tanpa mempehatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian bila
anggota populasi homogen atau dianggap homogen. Teknik ini dapat digambarkan
dalam gambar 2.1 berikut :
|
Populasi
Homogen
|
Sampel
Yang
Diambil
POPULASI Diambil
HOMOGEN Secara Random
Gambar 21
Teknik Simple Random Sampling
Pengambilan
sampel dengan cara ini dapat
dilakukan dengan cara pengundian sebagai berikut :
Seluruh
anggota pada populasi diberi nomor. Lalu
secara acak dipilih nomor-nomor yang
sesuai dengan banyaknya sampel yang telah ditentukan, dengan cara diundi.
Pengundian bisa dilakukan dengan menggunakan “klintingan”, atau dengan
menggunakan mesin pembangkit angka acak.[2][2]
Pengundian dapat pula menggunakan
tabel bilangan random yang sering
dilampirkan pada buku-buku teks statistika.
Tabel
bilangan random merupakan suatu tabel yang
terdiri dari bilangan-bilangan
yang disajikan dengan sangat tidak
beraturan. Prinsip pemakaian tabel
bilangan random adalah pertama-tama memberi nomor
pada setiap anggota populasi. Daftar ini disebut kerangka pengambilan
sampel ( sample frame ). Seandaianya
terdapat 50 anggota populasi, maka setiap anggota diberi nomor mulai dari 01
sampai 50. Lalu gunakan jumlah digit
pada pada tabel acak digit
populasi.[3][3] Cara
pemakaian pada tabel, pilih salah satu
nomor dengan angka acak, gunakan
digit terakhirnya. Anggota populasi pada sample frame yang mempunyai nomor yang
cocok dengan angka diatas, diambil
sebagai anggota sampel. Lalu lihat nomor
yang berikutnya pada tabel, ambil dua
digit terakhir. Anggota populasi pada sample frame yang mempunyai nomor sama terpilih sebagai
anggota sampel. Demikian seterusnya sampai jumlah sampel yang diharapkan
terpenuhi. Angka pada tabel yang
nilainya di atas 50, atau angka yang berulang harus dibuang.
b.
Proportionate Stratified Random
Sampling
Teknik
ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara
proporsional. Sebagai contoh, suatu lembaga mempunyai pegawai dari latar
belakang pendidikan yang beragam.
Maka populasi pegawai itu
berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus
= 10,
=40
,
= 200, SMK
Teknik = 400, SMK Ekonomi = 200, SMP = 150. Jumlah sampel yang harus diambil mencakup seluruh strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional
jumlah sampel.
Bila
diambil kesalahan 5 % , dengan menggunakan
Tabel Kracjie, maka jumlah sampelnya 278. Karena sampel berstrata dan
stratanya menurut tingkat / latar belakang
pendidikan, maka sampel harus proporsional menurut latar belakang/
tingkat pendidikan. Jumlah sampel untuk tiap tingkat / latar belakang
pendidikan adalah :
SMK Teknik
=
109,20 = 110
SMK Ekonomi =
54,60 = 55
SMP =
40,70 =
41
Terlihat bahwa
pada teknik proportionate stratified random sampling, untuk jumlah tiap strata ( subpopulasi ) berbeda, maka jumlah sampel pada tiap strata ( subsampel ) pun berbeda
Jika jumlah
anggota tiap strata ( subpopulasi) sama, maka jumlah sampel pada tiap strata (
sub sampel ) akan sama.
Teknik
Proportionate Stratified Random Sampling dapat digambarkan pada gambar 3.2 sebagai berikut :
|
Populasi
Berstrata
|
|||
|
Sampelyang
representatif
|
|||
Gambar
2.2 : Teknik Stratified Random Sampling
c.
Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasi
berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari suatu
PT tertentu mempunyai 3 orang lulusan
, 4 orang lulusan
, 90 orang lulusan
, 800 orang lulusan SMU, dan 700 orang lulusan SMP. Maka 3 orang lulusan
dan 4 orang lulusan
itu diambil semuanya sebagai sampel, karena dua kelompok tersebut
terlalu kecil bila dibandingkan kelompok
, SMU dan SMP.
d. Cluster Sampling ( Area Sampling )
Pengambilan sampel dengan kluster ini kadang-kadang
dikaitkan dengan pengambilan sampel wilayah, sebab dalam pelaksanaannya sering
dikaitkan dengan letak geografis. Namun
teknik sampling ini bisa pula digunakan pada pengambilan sampel yang lebih
umum, yakni pada suatu populasi yang berstruktur.
Dalam pemakaian teknik ini, sering digunakan melalui lebih
dari satu tahap, yaitu tahap
pertama menentukan sampel daerah, dan
tahap berikutnya menentukan individu-individu yang ada pada daerah itu secara
sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti pada gambar 2.3 berikut ini :
Populasi Daerah
|
A
B
E D
C
F
G H
|

|
A C
D
G F F
|
Diambil dengan 
Random
Sampel individu
Gambar 2.3 : Teknik Cluster Random Sampling
Pengambilan sampel dengan cara ini mirip dengan cara Proportionate Stratified Random Sampling.
Bedanya jika cara stratifikasi dipandang adanya
subpopulasi yang homogen, sedang
pada cara cluster unsur-unsurnya heterogen. Selanjutnya dari masing-masing kluster dipilih sampel
secara random sebanyak yang dibutuhkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 33 propinsi, dan sampelnya
akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random, tetapi karena
propinsi-propinsi di Indonesia berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.
2. Non Probability Sampling
Non Probability sampling adalah
teknik yang tidak memberi
peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau angota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono,1999;60).
Dengan cara demikian semua elemen populasi belum tentu mempunyai
kesempatan untuk dipilih menjadi anggota
sampel. Hal ini misalnya karena ada bagian tertentu yang secara sengaja tidak dimasukkan dalam pemilihan untuk mewakili populasi. Cara ini juga sering disebut sebagai pengambilan sampel
berdasarkan pertimbangan tertentu oleh peneliti.
Ada
6 cara pengambilan sampel cara ini yaitu :
a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampling berdasarkan urutan dari anggota populasi yang
telah diberi nomor urut. Misalnya anggota
populasi terdiri 100. Maka setiap
anggota populasi diberi nomor dari 001 sampai
dengan nomor 100. Misalnya peneliti menentukan hanya mengambil sampel
dari populasi yang bernomor kelipatan 3. Maka anggota populasi yang terpilih
menjadi anggota sampel adalah anggota populasi nomor 003, 006,009 dan
seterusnya sampai 099.
Bila peneliti memutuskan mengambil sampel dari anggota
populasi yang bernomor genap, maka anggota sampel yang terpilih sebagai sampel
adalah 002, 004, 006 dan seterusnya sampai 100. Jelas terlihat bahwa setiap
anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai
sampel.
b. Sampling Kuota (Quota Sampling)
Teknik ini digunakan jika peneliti
ingin mengkaji suatu fenomena dari beberapa sisi. Peneliti menentukan
responden yang akan dipilih adalah orang-orang yang diperkirakan akan menjawab semua sisi tersebut. Misalnya
akan diteliti perihal prestasi akademik
mahasiswa dari mahasiswa aktiv belajar
di kelas, rajin membaca di perpustakaan dan
turut serta dalam organisasi kemahasiswaan, maka sasaran kuesioner
diarahkan pada mahasiswa
yang aktif kuliah, rajin ke perpustakaan dan mahasiswa yang
terlibat organisasi kemahasiswaan. Jadi mahasiswa-mahasiswa seperti itu
jika dijadikan sampel akan digunakan sebagai wakil
dari populasi seluruh masiswa.
c.
Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik
penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan
sebagai sampel, bila dipandang orang
yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data.
Teknik ini disebut pula cara dipermudah (Convinence Sampling).
Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya paling mudah dan cepat dilakukan karena peniliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa
saja yang mereka temui.
Meskipun mempunyai
ketidakterandalan yang tinggi , cara ini masih
bermanfaat, misalnya pada tahap
awal penelitian eksploratif saat studi penelitian pendahuluan untuk mencari petunjuk-petunjuk penelitian. Selanjutnya dari hasil tersebut dapat
dilakukan langkah-langkah yang lebih terarah
d. Sampling Purposive
Sampling Purposive adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai,
maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.
e.
Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel
dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
digunakan bila jumlah populasi relatif kecil, misalnya kurang dari 30 orang.
Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota
populasi dijadikan sampel.
f.
Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang
mula-mula jumlahnya kecil. Kemudian
sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu
seterusnya, sehinggga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang
menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak
menggunakan sampel purposive dan snowball. Teknik
snowball sampling, ditunjukkan pada gambar 2.4.
berikut :
|
A
|
Sampel Pertama

Pilihan A|
B
|
C


Pilihan C
Pilihan B
|
I
|
H
G
F
|
D
|
E
|
||||||
|
|
![]() |
||||||
|
L
|
K
J
O
N
M

Gambar
2.4 : Snowball Sampling
2.2.1.3. Kekeliruan Sampling
Suatu penelitian sampel memang tidak dapat lepas dari
kekeliruan, karena penelitian sampel hanya dilakukan terhadap sebagian
populasi. Generalisasi yang dilakukan tentu saja akan memunculkan galat / eror.
Yang harus diupayakan adalah meminimalisasi kesalahan tersebut. Teknik
sampling merupakan salah satu cara
memperkecil kesalahan tersebut.
Namun
demikiann kekeliruan tetap saja bisa terjadi , baik pada saat pengumpulan data,
saat melakukan pengolahan data, atau pun pada saat penyajian informasi hasil
penlitian. Pada tahap pengumpulan data sampel terdapat medan-medan dimana kekeliruan sampling[4][4] dapat terjadi. Oleh karena itu
perlu dilakukan antisipasi secara dini dengan melakukan penentuan sampel secara
cermat, pengambilan data yang valid, pengolahan data yang akurat, dan penyajian
data informasi yang baik
2.2.2. Kegiatan Pengumpulan Data
. Kegiatan
pelaksanaan pengumpulan data, dapat berbentuk :
a.
Pengamatan mendalam (Systematic
observation),
yaitu pengamatan terhadap obyek yang akan dicatat datanya. Sebelumnya telah
dilakukan persiapan matang, obyek apa yang akan diamati secara mendalam. Tidak
lupa, instrumen yang dibutuhkan juga dipersiapkan.
b.
Wawancara Mendalam (Systematic
interview), yaitu pengumpulan data berbentuk pengajuan
pertanyaan lisan. Out line dan draft pertanyaan telah dipersiapkan secara
matang, demikian pula dengan instrumen yang dibutuhkan.
c.
Angket, yaitu pengumpulan data berbentuk
pengajuan pertanyaan tertulis melalui
sebuah daftar pertanyaan yang sudah
dipersiapkan sebelumnya.
d.
Tes, misalnya tes hasil belajar, tes
kecerdasan, tes kepribadian, tes minat dan bakat, dan lain sebagainya.
Dalam
pengumpulan data statististik, beberapa alat (instrumen) yang biasa dipergunakan antara lain :
a. Daftar atau daftar Check (Check List)
b. Skala Bertingkat (Rating Scale)
c. Pedoman Wawancara (Interview
Guide)
d. Questionnaire (Daftar pertanyaan yang
pertanyaannnya sudah disediakan jawabannya sudah disediakan untuk dipilih, atau
disediakan tempat untuk mengisikan jawabannya)
[1][1]
Sebagai contoh, pada tahun 2002 kita
dikejutkan oleh penelitian di Yogyakarta yang menyatakan 90% mahasiswa Yogyakarta telah melakukan
hubungan seksual . Setelah ditelusuri, ternyata peneliti dalam mengambil sambel ternyata tidak
menggunakan teknik pengambilan sampel yang benar. Ia tidak obyektif dalam
mengambil sampel. Pengambilan sampel diarahkan pada obyek yang mendukung hipotesisnya.
[2][2]
Mesin pembangkit angka acak dapat berupa dadu bermata banyak, atau kini, telah dapat digunakan komputer.
[4][4]
Maksudnya adalah terjadinya
kekeliruan pada saat menelaah sampel,
misalnya dalam menentukan jumlah sampel
yang harus diambil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar